Cerpen

Cita-Cita Terbesarku
Penulis : Novitasari

"Rasanya kamu tidak pantas menjadi seorang guru." Ucap salah satu siswa yang sedang duduk dibelakangku.

"Tentu saja, kamu kan tidak mempunyai ayah dan ibumu hanya penjual kue keliling, sedangkan biaya kuliah itu mahal, pasti ibumu tidak bisa membiayaimu." Sambung temanku yang lain.

Aku diam lalu tersenyum "ya memang aku tidak mempunyai ayah dan ibuku hanya seorang penjual kue keliling, tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita terus berusaha dan berdo'a Insya Allah apa yang kita inginkan bisa tercapai atas ijin Allah." Ucapku.

"Ya sudah terserah kamu, kita hanya mengingatkan saja jangan berharap terlalu tinggi dan akhirnya kamu juga yang merasa kecewa!" Ucap temanku sambil meninggalkan bangkunya dan aku hanya membalas dengan senyuman.

Masih saja ucapan lima tahun yang lalu itu terngiang-ngiang ditelingaku, kata-kata yang membuat diriku menjadi tidak percaya diri. Tetapi dengan kejadian itu membuat aku menjadi lebih termotivasi untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi seorang guru dan lulus menjadi sarjana dengan nilai terbaik. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru karena ingin meneruskan cita-cita ayahku yang ingin menjadi seorang guru.

"Fisya sudah besar nanti cita-cita kamu mau jadi apa?" Tanya ayahku sambil mengangkat tubuhku untuk duduk dipangkuannya.

"Aku mau jadi dokter yah." Jawabku polos.

"Alasan kamu mau jadi dokter apa nak?" Tanya ayahku sambil mengelus-ngelus rambutku.
"Karena aku ingin menyembuhkan orang-orang sakit ayah, termasuk ibu dan ayah, aku ingin melihat ibu dan ayah sehat terus." Jawabku.

"Masya Allah anak ayah pintar sekali jawabnya, tapi ingat ya nak yang menyembuhkan itu bukan dokter tapi Allah lah yang menyembuhkan orang yang sakit, dan dokterlah yang menjadi perantaranya. Allah akan mengukur terlebih dahulu usaha yang dilakukan oleh orang itu untuk mendapat kesembuhan. Lalu dengan usaha yang maksimal, kita serahkan sisanya kepada Allah dengan tetap berdo'a memohon kesembuhan dan tawakal. Jika kamu ingin menjadi dokter kamu harus rajin belajar, rajin sekolahnya, dan ayah selalu mendo'akanmu nak semoga nanti kamu bisa melanjutkan pendidikan mu ke jenjang yang lebih tinggi dan menjadi sarjana." Ucap ayahku.

Aku hanya mengangguk "kalau cita-cita ayah apa?" tanyaku kepada ayah.

"Ayah dulu bercita-cita ingin menjadi guru." jawab ayahku sambil tersenyum.

"Kenapa ayah mau menjadi guru?" tanyaku kepada ayah.
"Karena ayah ingin berbagi ilmu yang ayah miliki, karena sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dapat dimanfaatkan, dan diamalkan. Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri terlebih dahulu mengamalkannya, kemudian kita ajarkan ke orang lain. Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, Insya Allah kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada." Jelas ayah.

Ucapan itu masih teringat dimemoriku, ucapan ayah yang selalu membuatku bangkit dan semangat jika aku mendapat cibiran dari orang lain. Meskipun ayah bukan lulusan sarjana pendidikan tetapi ayah sudah mengamalkan ilmunya, ya semasa hidupnya ayah mengajarkan mengaji anak-anak di rumah setiap harinya. Namun Allah lebih sayang kepada ayah, Allah memanggil ayah lebih cepat ketika umurku berusia 9 tahun. 

Semenjak kepergian ayah, aku hanya tinggal berdua bersama ibuku, ibuku memutuskan untuk tidak menikah lagi. Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, setiap harinya ibu keliling kampung untuk menjual kue. Setelah menginjak bangku SMA aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru, dan menjadi sarjana dengan lulusan terbaik untuk melanjutkan cita-cita ayahku. Ya meskipun cibiran demi cibiran selalu terdengar ditelingaku tapi aku tidak memperdulikannya, dan cibiran itu aku jadikan motivasi bahwa aku bisa dan aku harus membuktikan lepada mereka.

Pada akhirnya alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa dari sekolah untuk melanjutkan pendidikanku selama 4 tahun, dan menjadi lulusan terbaik. Kemudian aku mendapatkan kesempatan kembali mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang S2, dan alhamdulillah aku sudah mengajar disalah satu universitas yang ada di Bandung ini. Aku sangar-sangat bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepadaku saat ini, memamg benar dengan usaha yang maksimal, lalu kita serahkan sisanya kepada Allah, pada akhirnya aku bisa memetik hasil usahaku selama ini. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? (ar-Rahman : 13).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vidio Pembelajaran Matematika

Kaulinan Barudak